Pernah nggak sih kamu duduk di sebuah kafe, memperhatikan deretan stopkontak di dinding? Ada yang jelas terpakai, kabel charger menancap di situ. Tapi ada juga yang kosong, lubangnya menghitam, kadang tertutup debu. Aku selalu bertanya-tanya: siapa yang pertama kali merancang letak stopkontak itu? Apakah mereka pernah membayangkan ada slot yang sampai kapan pun tak akan pernah diisi?
Ini bukan tentang stopkontak di kafe saja. Coba lihat keyboard laptopmu. Ada slot kartu SD yang mungkin sejak kamu beli belum pernah kamu buka penutupnya. Ada slot SIM di ponsel jadul yang sudah berganti generasi. Ada slot koin di mesin parkir yang kini hanya menerima pembayaran digital. Slot-slot itu ada, secara fisik, tapi fungsinya sudah mati sebelum sempat hidup.
Aku menyebutnya “slot hantu”. Bukan karena angker, tapi karena kehadirannya seperti sisa-sisa masa lalu yang dipaksakan tetap ada. Ia menempel di perangkat, di ruang publik, di sistem, tapi tak ada satu pun manusia yang benar-benar memakainya. Bukan karena rusak, bukan karena salah desain, tapi karena dunia bergerak terlalu cepat, atau karena kebiasaan orang sudah berubah total.
Slot yang lahir dari asumsi
Pernah lihat meja kantor dengan laci kecil di bagian tengah? Laci itu biasanya untuk menyimpan pulpen, klip kertas, atau mungkin disket. Disket. Benda itu sudah punah. Tapi laci dengan ukuran pas untuk disket masih diproduksi sampai awal 2010-an. Itu contoh slot yang lahir dari asumsi bahwa manusia akan terus memakai benda tertentu. Padahal, sejarah berkata lain.
Begitu juga slot CD di laptop. Dulu, setiap laptop pasti punya. Sekarang, kalau kamu beli laptop tipis, slot itu hilang. Tapi di beberapa model, slot itu masih ada—entah sebagai penghormatan pada masa lalu, atau karena produsen malas mendesain ulang. Akibatnya, slot itu menjadi monumen kecil. Tak pernah dipakai. Tak akan pernah dipakai. Tapi tetap di sana.
Ada juga slot di remote TV untuk kartu dekoder. Dulu, orang harus memasukkan kartu berlangganan untuk bisa menonton channel berbayar. Sekarang, semuanya streaming. Remote itu masih punya slotnya. Mungkin sampai remote itu rusak, slot itu tetap kosong. Tak ada yang pernah memasukkan apa pun ke situ.
Di ruang publik
Aku pernah memperhatikan halte bus di kotaku. Ada panel informasi dengan slot kertas di bawahnya. Dulu, petugas akan mencetak jadwal dan menyelipkannya ke slot itu. Sekarang, jadwal ada di layar digital. Tapi slot kertas itu masih ada. Kadang ada puntung rokok nyempil di situ. Kadang ada daun kering. Tapi tak pernah ada kertas jadwal. Slot itu sudah kehilangan tujuannya, tapi tetap menjadi bagian dari bangunan.
Begitu pula slot di mesin ATM untuk buku tabungan. Bank-bank tertentu masih menyediakan buku tabungan, tapi mesinnya sudah beralih ke kartu dan mobile banking. Slot untuk memasukkan buku itu kini hanya menjadi lubang gelap.
Mengapa dibiarkan?
Ada beberapa alasan. Pertama, biaya mengubah desain. Kalau sebuah pabrik sudah mencetak ribuan casing dengan slot tertentu, lebih murah membiarkannya daripada merombak semuanya. Kedua, faktor kebiasaan. Orang tua yang masih punya disket atau kartu memori mungkin merasa aman kalau slotnya ada, meski mereka sendiri tak pernah memakainya. Ketiga, alasan simbolis. Slot itu menjadi penanda bahwa perangkat ini “lengkap”. Tanpa slot itu, konsumen merasa ada yang kurang, meski tak tahu apa.
Slot yang tak terlihat Tak semua slot berbentuk lubang fisik. Ada juga slot dalam sistem digital. Misalnya, kolom di formulir online yang meminta “nomor faks”. Siapa yang masih pakai faks? Hampir tidak ada. Tapi kolom itu masih ada di banyak formulir pendaftaran. Orang biasanya mengosongkannya, atau menulis “tidak ada”. Kolom itu adalah slot virtual yang tak pernah diisi dengan benar. Atau slot waktu di aplikasi kalender yang disediakan untuk rapat tatap muka, padahal semua rapat sekarang online. Slot itu tetap ada, tapi tak pernah dipakai. Kita hanya mengabaikannya, menggulir ke bawah, dan memilih opsi lain. Apa yang bisa kita pelajari?
Slot yang tak pernah dipakai orang adalah jejak kaki kita di atas pasir waktu. Ia menunjukkan bahwa kita pernah berpikir, pernah membuat, pernah berharap. Tapi harapan itu tak selalu terwujud. Dan kadang, yang tersisa hanyalah lubang kecil di dinding, di keyboard, di formulir, yang menunggu sesuatu yang tak akan pernah datang.
Kalau kamu punya slot seperti itu di rumah atau di kantormu, coba perhatikan. Mungkin ia berdebu. Mungkin ia retak.

0 Comments